UIN SUKA Hadirkan Semangat Kolaborasi PMB di Samarinda


PMB Kedokteran Dibuka Hingga 31 Juli 2026

Di tengah semakin ketatnya persaingan pendidikan tinggi, UIN Sunan Kalijaga (SUKA) Yogyakarta dan UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda memilih menghadirkan semangat kolaborasi. Kedua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tersebut menggelar Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Kolaboratif sebagai upaya memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus memperkenalkan transformasi PTKIN yang semakin maju, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat UINSI Samarinda, Selasa (23/6/2026), diikuti sekitar 50 Madrasah Aliyah (MA) dan sekolah sederajat di Kalimantan Timur. Melalui forum ini, kedua perguruan tinggi memperkenalkan beragam program studi unggulan, jalur penerimaan mahasiswa baru, serta komitmen PTKIN dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, berdaya saing global, dan berakar pada nilai-nilai keislaman.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Moh. Sodik, M.Si., menegaskan bahwa PTKIN kini mengemban mandat yang jauh lebih luas daripada sekadar menjadi lembaga pendidikan keagamaan. PTKIN hadir sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. 

Menurut Prof. Sodik, paradigma keilmuan PTKIN dibangun di atas tiga pilar utama. Pilar pertama, Hadharah An-Nash, menekankan penguasaan sumber-sumber ajaran Islam melalui kajian Al-Qur'an, tafsir, hadis, dan disiplin keislaman lainnya. Melalui fondasi tersebut, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan akhlak mulia.

"Setiap mahasiswa dibekali pemahaman keislaman yang kuat, mulai dari Al-Qur'an, Tafsir hingga Hadis. Namun tujuan akhirnya bukan hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, melainkan manusia yang utuh, berintegritas, dan berakhlakul karimah," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai persoalan bangsa sering kali berakar bukan pada rendahnya kemampuan intelektual, melainkan lemahnya karakter.

"Banyak orang pintar justru terjerumus dalam praktik korupsi. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan," katanya.

Pilar kedua, Hadharah Al-'Ilmi, menegaskan komitmen PTKIN dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi yang memenuhi standar nasional maupun internasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sistem penjaminan mutu yang berkelanjutan, baik melalui akreditasi BAN-PT, Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM), maupun evaluasi internal oleh Lembaga Penjaminan Mutu masing-masing perguruan tinggi.

Sementara itu, pilar ketiga, Hadharah Al-Falsafah, membekali mahasiswa dengan landasan filosofis yang mencakup nilai-nilai Pancasila, pemikiran para pendiri bangsa, falsafah kebudayaan, hingga perspektif ekoteologi sebagai bekal menghadapi tantangan global.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum dan Akademik UINSI Samarinda, Ahmad Mahyuddin, menegaskan bahwa kolaborasi antarkampus merupakan strategi penting dalam memperluas akses pendidikan tinggi.

"Kampus boleh bersaing, tetapi tidak harus saling meniadakan. Hari ini kami menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat berkolaborasi, berbagi ruang, dan bersama-sama membuka peluang terbaik bagi generasi muda," ujarnya.

Menurut Mahyuddin, kerja sama antara UINSI Samarinda dan UIN Sunan Kalijaga tidak hanya bertujuan memperkenalkan program studi masing-masing, tetapi juga memperluas kesempatan lulusan sekolah menengah, khususnya di Kalimantan Timur, untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berkualitas.

Ia juga mengungkapkan bahwa hubungan kedua institusi telah terjalin sejak lama. Banyak dosen UINSI merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, merupakan putra daerah Kalimantan yang telah menorehkan kiprah akademik di tingkat nasional maupun internasional.

Pada sesi sosialisasi, perhatian peserta tertuju pada berbagai program unggulan yang ditawarkan kedua kampus. Salah satu yang paling menarik minat siswa adalah hadirnya Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga, yang mengintegrasikan ilmu kedokteran modern dengan nilai-nilai keislaman dan pendekatan interdisipliner.

Ketua Admisi UIN Sunan Kalijaga, Handini, M.I.Kom., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk melahirkan dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga berkarakter, berempati, dan mampu menjadi pemecah persoalan di tengah masyarakat.

"Kami ingin melahirkan dokter masa depan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan kemampuan menjadi problem solver bagi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga didukung laboratorium modern, jejaring rumah sakit pendidikan, serta berbagai jalur penerimaan mahasiswa yang terbuka bagi calon mahasiswa dari seluruh Indonesia, termasuk Kalimantan Timur. PMB Fakultas Kedokteran dibuka hanya sampai gelombang 2 saja melalui website admisi.uin-suka.ac.id.

Sementara itu, Kepala Pusat PMB UINSI Samarinda, Dr. Muhammad Ridho Muttaqien, M.Pd., memaparkan berbagai keunggulan akademik, program pengembangan mahasiswa, serta peluang beasiswa yang tersedia di UINSI. Melalui sosialisasi kolaboratif ini, kedua perguruan tinggi berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal kualitas PTKIN dan menjadikannya sebagai pilihan utama untuk melanjutkan pendidikan tinggi. (Tim Media Admisi)